Materi / bahan pelajaran : Mencegah Sibling rivalry sejak usia dini
Judul : Sayang pada Adik dan Kakak yuk!!
Kriteria : Anak Usia TK (taman kanak – kanak), tapi dapat juga diterapkan pada anak – anak setingkat kelas 1-2 SD.
Sayang pada Adik dan Kakak Yuk!!!
Pendahuluan
Apa itu sibling rivalry?
Kecemburuan atau persaingan yang terjadi pada saudara kandung biasa disebut dengan sibling rivalry. Sibling rivalry terjadi jika anak merasa mulai kehilangan kasih sayang dari orang tua dan merasa bahwa saudara kandung adalah saingan dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Biasanya ini terjadi karena orang tua memberikan perlakuan yang berbeda pada anak-anak mereka. Ketika misalnya ada anak emas maka anak yang lain akan muncul perasaan iri atau merasa mendapatkan saingan dalam rumah, yaitu saudara kandung mereka sendiri.
Sibling rivalry biasanya muncul ketika selisih usia saudara kandung terlalu dekat. Hal ini terjadi karena kehadiran adik dianggap menyita waktu dan perhatian terlalu banyak. Jarak usia yang lazim memicu munculnya sibling rivalry adalah jarak usia antara 1-3 tahun dan muncul pada usia 3-5 tahun kemudian muncul kembali pada usia 8 – 12 tahun. Dikalangan anak, reaksi sibling rivalry lebih beraneka ragam. Terdapat dua macam reaksi sibling rivalry adalah secara langsung yaitu biasanya berupa perilaku agresif seperti memukul, mencubit, atau bahkan menendang. Reaksi yang lainnya adalah yang sulit dikenali yaitu reaksi tidak langsung seperti misalnya, munculnya kenakalan, rewel, mengompol atau pura-pura sakit.
Orang tua adalah kunci bagi munculnya sibling rivalry dan juga berperan memperkecil munculnya hal tersebut. Oleh sebab itu beberapa peran yang dapat dilakukan adalah; memberikan kasih sayang dan cinta yang adil bagi anak, mempersiapkan anak yang lebih tua menyambut kehadiran adik baru, memberikan hukuman sesuai dengan kesalahan anak bukan karena adanya anak emas atau bukan, sharing antar orang tua dan anak, serta memperhatikan protes anak terhadap kesalahan orangtua.
Lalu apa dampak dari sibling rivalry?
Selain kenakalan anak di rumah pada adik barunya, hal ini dapat berpengaruh pada hubungan anak tersebut dengan teman – temannya di sekolah. Bila terjadi ketidakadilan di rumah yang membuat anak stress, bisa membuat anak menjadi lebih temperamen dan agresif dalam kelakuannya di sekolah.
Walaupun pelajaran mengenai pengaturan hubungan saudara seharusnya lebih ditekankan pada pengajaran di rumah dan kepada orang tua, tapi tak ada salahnya bila materi ini diajarkan juga di sekolah – sekolah, terutama pada tingkatan TK dan SD.
Anak TK biasanya berumur antara 4-6 tahun, dimana ini merupakan waktu – waktu yang amat tepat untuk mengajarkan mereka dalam hal menjalin hubungan dengan sesama. Pada umumnya, anak – anak usia ini sudah mempunyai adik berumur 0-2 tahun. Dan hubungan mereka dengan adiknya itu akan sangat berpengaruh pada tingkah mereka dengan orang lain.
Materi di kelas.
Banyak hal yang dapat dilakukan olah guru TK pada anak didiknya tentangmenjalin hubungan yang baik terhadap adiknya. Materi yang dapat diberikan dikelas contohnya :
Øpertama buatlah suasana kelas kondusif dan menyenangkan untuk memberikan materi.
ØPerkenalkanlah materi pada hari itu dengan cara yang menyenangkan pula, contoh : “Selamat pagi anak – anak. Hari ini kita ngapain ya? Bagaimana kalau kita menyanyi dulu…Kita nyanyi satu – satu ya…”. Coba perhatikan liriknya, ‘…tiga – tiga sayang adik kakak…’, nah jadikanlah lirik lagu itu pijakan dalam pengenalan materi.
ØSetelah bernyanyi bersama – sama, coba Tanya pada mereka siapa yang punya adik atau kaka di rumah, dan mintalah mereka untuk menceritakan salah satu pengalaman mereka dengan saudara kandung mereka. Contoh : ‘Nah..udah nyanyi kan, gimana kalau kita hari ini berbagi cerita. Coba siapa disini yang punya adik atau kakak di rumah? Sekarang yang punya adik atau kakak maju ke depan satu – satu trus kalau punye cerita pengalaman tak terlupakan dengan adik atau kakak ya…”.
ØMinta anak – anak yang lain saat temannya bercerita untuk mendengarkan. (Bila waktu memungkinkan, tunjuklah semua anak untuk bercerita). Sangat memungkinkan bila yang mereka ceritakan adalah pengalaman yang menjengkelkan misal “Kakak ga pernah mau main sama aku, katanya aku itu ga asik di ajak main. Kakak juga ga pernah minjemi aku mobil – mobilannya. Pokoknya kakak nyebelin.” Cobalah kita beri pengertian pada anak yang bercerita seperti itu, “kenapa kakaknya Dio sampai begitu? Mungkin Dio-nya kali yang nakal duluan sama kakak, jadi kakaknya dio ga mau lagi main sama Dio. Atau Dio mungkin pernah ngerusakin mainannya kakak. Jadi aja kakak ga mau minjemin mobil – mobilanya lagi.” Buatlah mereka mencari alasan mengapa adik atau kakak mereka sampai berbuat menyebalkan pada mereka. Itu membuat mereka belajar unutk mencari kesalahan sendiri dan kemudian memperbaikinya di kemudian hari.
ØSetelah berbagi cerita bersama, terangkanlah pada mereka betapa pentingnya menjalin hubungan yang baik dengan saudara kandung di rumah. Jadikanlah sebagian cerita mereka sebagai contoh. Misalkan, “Semuanya udah cerita tentang adik atau kakak di rumah kan? Coba kita inget – inget lagi, tadi Rina cerita kalau adiknya lucu sekali, Rina jadi punya temen main di rumah, bisa memamerkan gambar yang Rina bikin di sekolah, dan bisa di ajak nyanyi bareng kayak lagu yang diajarin sama bu guru. Seneng kan, kalau sama sodara akur, kayak Rina. Nah buat yang masih suka berantem sama adik atau kakaknya di rumah, mulai sekarang jangan suka berantem lagi ya. Kalau punya mainan, adiknya di kasih pinjem, trus main bareng – bareng deh.”
ØKalau memang memungkinkan, buatlah satu jam pelajaran untuk mengadakn pertemuan antar saudara di kelas. Dimana, anak – anak diminta untuk membawa adik atau kakaknya ke sekolah, dan buatlah permainan di kelas yang mengutamakan kekompakan antar saudara. Misalnya lomba membuat kerajinan tangan dari kertas, yang bahan – bahanya sudah disiapkan di kelas. Dan bagi yang tidak mempunyai saudara atau saudaranya tidak memungkinkan untuk mengikuti lomba, maka anak itu hendaklah dipasangkan dengan anak lain yang bernasib sama, dan tentukan bersama siapa yang bertindak jadi kakak dan siapa yang adik. Pilihlah pemenang yang membuat karya yang kreatif dan sesuai dengan umurnya. Dengan cara ini, para siswa dapat belajar mengenai kekompakan dan koordinasi dengan saudara, dan menghargai hasil karya orang lain.
ØKegiatan juga dapat dilakukan di luar kelas. Misalkan, ajaklah para siswa ke panti asuhan yang banyak anak – anak yang umurnya di bawah mereka. Lalu biarkan para siswa dekat dulu dengan mereka, dan kemudian para siswa diminta untuk mencari pasangan sendiri – sendiri dari kalangan anak panti itu untuk dijadikan adik asuh mereka selama sehari. Buatlah kegiatan menyenangkan untuk mereka yang mengasah kemapuan koordinasi dan kekompakan dengan adik asuh mereka. Membuat coklat bersama, menanam bunga, dan membuat kerajinan tangan dapat menjadi salah satu alternatifnya. Bersama – sama mereka akan belajar saling berbagi dan terbuka dengan sesamanya. Buat juga lomba sebagai indicator keberhasilan mereka menjalin hubungan dengan adik asuhnya. Dengan cara ini diharapkan para siswa dapat mengembangkan pengalaman mereka selama sehari di panti untuk diterapkan di rumah.
Ini semua adalah materi yang dapat diterapkan dalam pelajaran Pendidikan Kesejahteraan Keluarga tingkat TK sampai kelas 1-2 SD. Namun, memang pelajaran mengenai PKK yang terpenting adalah pelajaran di rumah. Dan bagi para orang tua, banyak juga cara untuk meminimalisasi sibling rivalry sedari dini. Yaitu :
- Jangan membanding-bandingkan anak. Hindarkan perkataan ”Kamu ini kok nakal ya, nggak seperti kakak kamu yang anteng!” Ucapan semodel justru akan memicu konflik kakak-adik.
- Libatkan anak dalam mempersiapkan kelahiran adik. Pada saat hamil, libatkan anak untuk mempersiapkan kelahiran, seperti ajak anak memilih pakaian ataupun perlengkapan bayi lainnya dan juga beritahukan bahwa adik barunya tidak akan merebut perhatian ibunya. Nah untuk yang satu ini ada kiat untuk anak dalam menyambut adik bayinya:
1. Selama masa kehamilan ajaklah kakak ke rumah sakit, jika memungkinkan. Dengan begitu, ia dapat melihat adiknya di layar scan dan mendengar detak jantungnya di alat ultrasound. Tunjukkan pula foto scan lama si kakak dan jelaskan bagaimana rasanya ketika dia ada di dalam rahim Anda.
2. Ajarkan padanya mengenai cara berinteraksi dan bermain dengan bayi. Apa yang bisa dilakukan dan bagaimana cara menunjukkan sayang pada adik.
3. Ketika si kakak berkunjung ke rumah sakit untuk pertama kalinya, sambutlah dengan ceria. Lalu perlihatkan adik bayinya yang baru lahir. Perkenalkan adik pada kakaknya dan juga sebaliknya, perkenalkan kakak pada adiknya. Ceritakan hal-hal positif tentang kakak kepada adik barunya, seolah adik bisa memahami cerita Anda.
4. Gunakan sebutan “adik bayi” daripada bayi baru, sehingga anak tidak merasa bahwa adik “baru” dan dia “lama”.
5. Berikan kesempatan si kakak melakukan hal-hal yang membuat dirinya merasa nyaman saat bersama adik. Jika dia hanya ingin melihat adik bayinya sebentar, lalu kembali bermain, tak apa. Begitu pula jika si kakak ingin memegang kaki atau tangan si bayi dengan lembut. Ia bahkan bisa memangku adiknya dengan bantuan Anda memegangi kepala si bayi. Biarkan ia menentukan langkahnya.
6. Tetap berikan perhatian pada si kakak. Hindari tekanan untuk selalu mengalah dan mendahulukan adik. Sesekali biarkan ayah bersama si adik ketika Anda mendampingi si kakak.
7. Jika si kakak benar-benar cemburu pada adik barunya dan menunjukkannya dengan cara kasar, Anda perlu bertindak cepat yaitu dengan segera menjauhkan dia dari bayi. Berikan time-out untuknya. Beritahu kakak bahwa dia tidak boleh menyakiti adik bayinya, tanpa harus membentak atau memukulnya.
Anda mungkin akan mengetahui bahwa sebenarnya si kakak tidak merasa dendam, tetapi hanya bereaksi saat si bayi menarik-narik rambutnya (tindakan yang umum dilakukan bayi).
Untuk minggu-minggu selanjutnya, pastikan si kakak tidak pernah sendirian bersama si bayi, tetapi jangan perlihatkan kecemasan Anda secara terang-terangan. Ingatlah, mungkin saja kakak hanya ingin mencari perhatian dan ingin berduaan dengan Anda. Jika serangan terus berlanjut sebaiknya Anda berkonsultasi dengan ahlinya.
- Buat aturan tentang perilaku yang diperbolehkan atau sebaliknya. Seperti, tak boleh ada pintu yang dihempas, teriakan, ejekan, dan lain-lain. Buat pula konsekuensinya bila ada yang melanggar. Aturan dan konsekuensi, selain mengajarkan mana yang ’baik’ dan ‘tidak’, juga akan mengajarkan anak tentang tanggung jawab.
- Jangan biarkan anak berpikir bahwa segalanya harus ‘transparan’ dan ‘adil’, kadang-kadang kakak atau adik memerlukan perhatian yang lebih banyak.
- Jangan menjadikan atau memaksa anak yang lebih tua sebagai pengasuh adiknya, karena anak akan merasa terbebani dan memberatkannya.
- Buatlah anak merasa istimewa di mata orangtuanya. Cobalah proaktif dalam memberikan perhatian pada masing-masing anak. Contoh, anak yang senang bermain di luar rumah ajaklah jalan-jalan di taman. Tapi, jika anak lebih suka duduk sambil membaca buku, maka sediakanlah waktu untuk duduk bersamanya untuk mendengarkan cerita dan lebih dekat padanya.
- Sebaiknya anak-anak memiliki ruangan tersendiri untuk melakukan keinginannya seperti bermain dengan mainan mereka sendiri, bermain dengan teman tanpa gangguan dari saudaranya atau menikmati aktivitas tanpa perlu berbagi.
- Bergembiralah bersama sebagai sebuah keluarga dengan cara jalan-jalan bersama, berlibur, atau berkumpul bersama di ruang keluarga. Kebersamaan ini akan mengurangi ketegangan karena cemburu atau persaingan antar saudara. Perlahan juga akan mengurangi konflik kakak-adik.
- Bila kakak-adik sering berantem karena berebut main komputer atau mainan lainnya, buatlah jadwal bersama mereka. Bila tetap berkelahi, ambillah keputusan untuk tidak membolehkan semua pihak memainkan mainan tersebut selama satu minggu, sampai kemudian mereka diajak berunding kembali tentang ‘jadwal’.
- Memberikan penguatan yang positif. Orang tua adalah role model yang efektif bagi anak. Jika orang tua berharap bahwa anak mereka bisa melakukan sesuatu yang baik orang tua sebaiknya memberikan penguatan atau reward terhadap munculnya perilaku yang diharapkan. Misalnya “kalian adalah saudara yang bisa bekerja sama dengan baik. liat mainan itu kalian tata dengan rapi.”
- Jika perkelahian antar kakak-adik di usia sekolah terjadi cukup sering, adakan pertemuan keluarga. Tekankan kembali tentang aturan yang telah disepakati bersama, atau buatlah aturan baru yang disepakati bersama.
- Pisahkan anak sementara waktu bila perlu. Ajak anak, terutama yang lebih besar, untuk bicara dari hati ke hati. Buatlah kesepakatan-kesepakatan, setelah anak mencurahkan isi hatinya.
Namun ternyata perseteruan antar saudara dapat mendatangkan manfaat. Lalu apa sajakah manfaatnya?
1. Mengajarkan anak bagaimana membela diri dan mempertahankan sesuatu yang menjadi haknya. Contoh kasus:
Mainan adik direbut kakak. Dengan mencoba mempertahankannya, secara tidak langsung si adik belajar membela diri sekaligus mempertahankan mainan yang memang menjadi haknya.
2. Mengekspresikan apa yang dirasakan. Contoh kasus:
Kakak kesal karena adiknya mengganggu terus saat ia sedang tekun mengerjakan PR. Kekesalannya itu diungkapkannya dengan berseru, “Aduh, kamu ngapain sih ganggu aku terus?” Mengekspresikan apa yang dirasakannya tentu boleh-boleh saja dan ini justru diperlukan sebagai pelepasan emosi secara sehat.
3. Mengasah kemampuan bernegosiasi dan kompromi. Contoh kasus:
Anak selalu berebut kamar mandi sebelum berangkat sekolah. Dengan bantuan orang tua, anak bisa diajak berdiskusi bagaimana menggunakan kamar mandi secara bergantian. Misalnya hari ini kakak dapat giliran untuk menggunakannya lebih dulu, sementara besok giliran si adik. Melalui contoh langsung seperti ini, anak bisa diajarkan bahwa kompromi dan negosiasi dapat menghasilkan keputusan yang menguntungkan kedua belah pihak.
4. Bercanda dan bersenang-senang. Contoh kasus:
Kalau sebelum tidur anak bercanda dengan perang bantal, orang tua tidak perlu selalu marah dan memperingatkan mereka untuk segera tidur. Bisa jadi “perang” ini merupakan cara anak untuk mengekspresikan sayang dan cara bersenang-senang setelah seharian lelah dengan aktivitas sekolahnya.
5. Mendorong perbaikan diri (self improvement) dan motivasi untuk menjadi lebih baik/melakukan sesuatu yang lebih baik dari saudaranya. Contoh kasus:
Adik marah karena kakak selalu mengolok-olok perolehan nilainya yang lebih rendah. Orang tua bisa memanfaatkan pertengkaran ini untuk memotivasi si adik supaya menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
6. Belajar menyesuaikan diri. Contoh kasus:
Kakak dan adik tidur dalam satu kamar. Si kakak ingin tidur dalam kamar yang gelap, sementara si adik takut pada kegelapan. Orang tua bisa meminta keduanya saling menyesuaikan diri. Misalnya dengan membuka sedikit pintu kamar sehingga ada celah untuk masuk cahaya dari ruang keluarga. Si kakak belajar menyesuaikan diri dengan sedikit cahaya, sedang adik belajar untuk tidak takut gelap.
7. Belajar berbagi. Contoh kasus:
Yang paling sering terjadi adalah rebutan makanan. Herannya, sewaktu masih utuh satu loyang di kulkas, tak ada yang mau menyentuh. Tapi ketika sudah tinggal seiris, keduanya malah rela berebutan. Melalui pertengkaran semacam ini, orang tua bisa mengajarkan konsep berbagi pada anak. Kalau ada kue satu loyang, maka masing-masing bisa mendapat setengah loyang, tapi karena tinggal sepotong, maka keduanya harus puas dengan bagian setengah potong yang tersisa.
8. Belajar bekerja sama dalam menyelesaikan masalah. Contoh kasus:
Adik marah karena kakak merusak mainannya. Orang tua bisa minta mereka berdua bekerja sama mencoba memperbaiki mainan tersebut. Bila mainan itu akhirnya bisa diperbaiki, anak akan belajar bahwa kerja sama dapat menyelesaikan masalah.
9. Menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri maupun kakak/adik. Contoh kasus:
Kakak cenderung egois sedangkan adiknya senang mengganggu. Dengan bantuan orang tua, anak bisa diajarkan melihat kekurangan dan kelebihan masing-masing. Misalnya saat bertengkar dan si kakak ngotot tak mau berbagi, orang tua bisa menunjukkan langsung bagaimana sifat egois itu akan merugikan keduanya. Begitu pula saat adik jahil mengganggu kakaknya. Selain manfaat langsung yang bisa disampaikan pada anak saat kejadian, dalam jangka panjang pun keterampilannya menyelesaikan pertengkaran akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat untuk bersosialisasi di lingkungan sekolah, dunia kerja, maupun kehidupan sosial.
Nah, memang yang harus banyak bekerja keras dalam pencegahan sibling rivalry adalah orang tua. Tapi para guru di sekolah pun punya tanggung jawab memberikan pengajaran etika terhadap sesame. Untuk hal yang lebih jauh, pihak sekolah bisa saja mengadakan pertemuan orang tua yang membicarakan khusus tentang masalah ini, atau lebih tepanta lagi diadakan seminar untuk orang tua oleh pihak sekolah. Sehingga, sekolah tidak hanya mengajarkan pelajaran – pelajaran science saja, tapi juga tentang betapa pentingnya menghargai kehidupan. Jadilah sekolah yang plus, plus, plus.
Catatab pribadi penulis :
Menyenangkan sekali menulis materi tentang sibling rivalry ini. Karena, dalam kehidupan pribadi saya selama ini sarat akan sibling rivalry. Keinginan agar yang lain tidak menghadapi hal yang sama seperti saya lah, yang membuat saya mengangkat tema ini. Tapi, tak dapat dipungkiri, walau penuh dengan konflik, saya sangat, sangat, sangat menyayangi adik – adik saya. Terlebih lagi saya adalah anak sulung dan semua adik saya juga perempuan.
Saya juga mengadakan wawancara tehadap beberapa sahabat saya mengenai hubungan mereka dengan saudara kandung mereka. Jawaban yang saya dapat pun amat beragam. Dan saya mencantumkan salah satu hasil wawancara saya dengan seorang sahabat saya. Sebelumnya perlu diketahui, bahwa dia merupakan anak kedua dari 3 bersaudara, kakaknya perempuan, dan adiknya sama dengannya laki – laki.
Saya : A pernah berantem ma adik atao kakak ga?
Dia : ga pernah, kalau beda pendapat sih sering tapi ga sampai berantem.
………(ada yang terlupakan)
Saya : trus ada pengajran khusus ga dirumah oleh orang tua tentang hubungan dengan sodara?
Dia : Ga ada ajaran yang khusus. Ya saling pengertian dan terbuka aja sesame saudara.
Saya yang notabene sering punya konflik dengan adik pun meresa aneh dengan jawaban tersebut. Masa’ sih saudara ga pernah berantem. Akhirnya saya pun memutuskan untuk mewawancara adiknya secara terpisah.
Kejelasan pun di dapat. Karena sepertinya saat saya mewawancara sang kakak itu pertanyaannya tidak jelas, makanya jawabanya pun jadi begitu. Karena ternyata, sewajarnya saudara, pasti pernah punya konflik sampai berantem juga terjadi. Apalagi dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan berjenis kelamin sama.
Seperti sahabat – sahabat saya yang lain, yang juga saya wawancarai. Umumnya, konflik dengan saudara terjadi hingga menimbulkan bentrok fisik terjadi pada saat usia dini sekolah SD sampai kelas 1 SMA. Dan semua intensitas perseteruan itu muali berkurang seiring bertambahnya usia. Dan pada usia – usia SMA dan di atas itu, konflik hanya berkisar tentang perbedaan pendapat dan dapat diselesaikan dengan pikiran yang lebih dewasa (paling parah mungkin sampai menangis saja, dan tidak sampai kontak fisik).
Semakin dewasa, ternyata perseteruan saat kecil pun menjadi perekat antar saudara. Tapi, bisa jadi konflik di waktu kecil malah jadi boomerang dan penghancur hubungan di kala dewasa. Disinilah peran orang tua amat dibutuhkan. Orang tua harus mencari solusi yang tepat untuk menjadikan sibling rivalry menjadi satu pelajran berharga untuk anak – anaknya kelak, dan bukannya menjadi dendam kesumat yang dapat terbawa kepada kehidupan mereka kedepannya.
Saling terbuka, menghargai, menghormati dalam keluarga adalah salah satu jalan mutlak menuju keluarga yang harmonis. Sisihkanlah satu waktu untuk membicarakn masalah keluarga bersama – sama. Mencari problem solving bersama, dapt mempererat hubungan baik antar anggota keluarga. Tidak hanya antar saudara (anak) tapi juga, antar anak dan orang tua.
Semua itu dapat dilakukan bila semua pihak mempunyai kesadaran akan pentingnya kehidupan keluarga. Dan prinsip Aa Gym pun sepertinya dapat diterapkan dalam hal ini. Mulai sekarang, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari hal yang kecil.
NB:
Catatan pribadi ini ku tulis dengan penuh kasih sayang untuk adik – adikku di rumah. Yang suka aku jahilin, gangguain, dan suka dinakalin. Terutama buat My Baby (adikku si ndut yang lucu banget) yang lahir 3 minggu sebelum ultahku. Walau sempat bikin stress, tapi kamu adalah hadiah terindah untuk ulang tahun sweet seventeenku. LOVE YOU ALL.